Sejarah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang Kini Lebur dengan BRIN

oleh:

Walaupun terintegrasi dengan BRIN sejak akhir 2021, bukan sekali ini Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dilebur ke lembaga lain. Bagaimana ceritanya?

Lembaga Eijkman resmi terintegrasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai September 2021. Eijkman kini juga berganti nama menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman dari yang sebelumnya Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Semula, Eijkman bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemenristekdikti).

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, lembaga riset yang dilebur ke dalam BRIN bukan hanya Eijkman. Menurut dia, totalnya ada 39 lembaga riset. “33 lembaga sudah resmi bergabung dengan BRIN, termasuk eks Kemenristek, Batan, BPPT, Lapan, LIPI. Enam lembaga lainnya masih dalam proses integrasi,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan di situs resmi BRIN, peleburan lembaga riset ke dalam BRIN merujuk pasal 65 Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021. Pasal itu mengatur integrasi unit kerja yang melaksanakan penelitian, pengembangan,dan penerapan iptek ke BRIN.

Apa itu Lembaga Eijkman?

Lembaga ini berfokus pada biomedis, biodiversitas, bioteknologi dan biosekuritas, serta menerapkan kemajuan tersebut untuk kesejahteraan masyarakat Tanah Air. Penelitiannya bergerak di bidang biologi molekuler dan bioteknologi kedokteran. 


Sejarah Eijkman

1888 — Christiaan Eijkman mendirikan lembaga penelitian bernama Centraal Laboratorium van den Dienst der Volksgezondheid (Laboratorium Pusat Dinas Kesehatan Masyarakat)

1929 — Eijkman mendapatkan Nobel.

1938 — Laboratorium ini berubah menjadi Lembaga Eijkman dan dipimpin Prof Dr Achmad Mochtar

1960-an — Lembaga ini kemudian ditutup dan melebur dengan RS Cipto Mangunkusumo. 

1990 — Lembaga Eijkman kembali lahir berkat inisiatif BJ Habibie yang pada masa itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi.

1992 — LBM Eijkman baru resmi berdiri usai dirilisnya Surat Keputusan Nomor 475/M/Kp/VII/1992 tentang Pendirian Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

1992-2014 — LBM Eijkman dipimpin oleh Profesor Sangkot Marzuki.

2014-2021 — Profesor Amin Soebandrio memimpin LBM Eijkman.


Beberapa penelitian yang pernah dikerjakan:

  • Penyakit Beri-beri
  • Vaksin Tetanus
  • HIV-Aids
  • Flu burung (H5N1)
  • SARS-1
  • Virus penyebab Covid-19

INGE KLARA | SUMBER DIOLAH TEMPO


Selengkapnya