Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

PDN Diserang, Minta Tebusan $8 Juta Dollar

Kamis, 27 Juni 2024 17:00 WIB

Iklan

Pusat Data Nasional dikonfirmasi telah diserang dalam bentuk ransomware oleh Badan Siber dan Sandi Negara.

Pusat Data Nasional dikonfirmasi telah diserang dalam bentuk ransomware oleh Badan Siber dan Sandi Negara. Serangan ini menyebabkan lumpuhnya server sejumlah lembaga dan kementerian. 

Apa itu PDN? 

PDN adalah tempat penempatan, penyimpanan dan pengolahan data dan pemulihan data Indonesia. Fasilitas ini diperuntukkan untuk seluruh Instansi Kementerian /Lembaga/ Pemerintah Daerah di Indonesia.

Serangan di server Surabaya

Serangan melanda Pusat Data Nasional Sementara 2 di Surabaya, bukan pada Pusat Data Nasional yang sedang dibangun di Cikarang, Jawa Barat. Dilansir dari situs Kementerian Komunikasi dan Informatika, PDNS adalah layanan sementara selama PDN masih dibangun. 

Layanan ini dibuat agar proses migrasi data center dapat berjalan secara bertahap. 

Kronologi Kejadian:

  • 17 Juni 2024: BSSN menemukan upaya non-aktifkan fitur keamanan Windows Defender. Ransomware mulai masuk dalam sistem. 
  • 20 Juni 2024: Aktivitas mencurigakan mulai terdeteksi di sistem PDN seperti mengizinkan file malicious terpasang pada sistem, menghapus file penting, dan mematikan service yang sedang berjalan. 
  • 20 Juni 2024: Windows Defender dimatikan dan sistem negara mulai lumpuh. 

Ancaman dari peretas

Peretas diketahui menggunakan ransomware dengan nama Brain Cipher Ransomware yang merupakan pengembangan dari ransomware lockbit 3.0. Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi mengatakan pembajak PDN minta tebusan 8 juta dolar AS. Namun ia menegaskan pemerintah tidak akan membayar atau memenuhi tuntutan syang diajukan pihak penyerang itu.

Respons Pemerintah

Wakil Menteri Kominfo, Nezar Patria, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Telkom Sigma dan Cyber Polri untuk mengupayakan migrasi data. "Kami lagi membuat skalanya. Mana yang harus segera diperluaskan untuk melakukan migrasi data. Kami sedang bekerja nanti akan di-update," kata dia di kantor Kemenkominfo, Jakarta, pada Senin, 25 Juni 2024.

Serangan lainnya

Selain serangan siber terhadap PDNS, BSSN juga mengungkap adanya kebocoran data milik Indonesia Automatic Fingerprint Identification System atau Inafis Polri yang dijual di dark web.

Kepala BSSN Hinsa Siburian mengakui data Inafis Polri bocor dan dijual ke dark web. Namun, menurut Hinsa, data yang bocor ini bukanlah dokumen baru, melainkan data lama milik institusi tersebut.

KRISNA PRADIPTA | SUMBER DIOLAH TEMPO