Cara Meredam Badai Sitokin yang Banyak Menyerang Pasien Covid-19

oleh:

Badai Sitokin jadi sorotan publik ketika Deddy Corbuzier mengaku sempat mengalaminya. Ada terapi yang dapat ditempuh masyarakat untuk menghadapinya.

Badai Sitokin baru-baru ini ramai dibahas masyakat setelah selebriti Deddy Corbuzier mengaku mengalaminya saat terpapar Covid-19. Badai Sitokin merupakan kondisi saat pasien Covid-19 mengalami peningkatan kadar protein inflamasi di tubuh mereka terkait dengan infeksi yang parah.

Kondisi ini menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS) hingga kematian. Istilah sitokin sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni cyto (sel) dan kinos (gerakan). 

Sitokin merupakan protein kecil yang dilepaskan banyak sel berbeda dalam tubuh, termasuk pada sistem kekebalan yang mengoordinasikan respons tubuh untuk melawan infeksi dan memicu peradangan.

Menurut berbagai penelitian, semua pasien Covid-19 bisa berisiko mengalami kondisi ini, termasuk orang tanpa gejala (OTG) dan yang sudah sembuh.

Menurut laman Verywell Health, gejala yang ditunjukkan pasien badai sitokin antara lain:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Nyeri otot dan persendian
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Ruam
  • Diare
  • Tekanan darah rendah
  • Pernafasan dan detak jantung yang cepat
  • Kejang-kejang
  • Kebingungan dan halusinasi
  • Kesulitan dalam mengkoordinasi pergerakan tubuh

Meski belum ada terapi atau obat yang bisa benar-benar menyembuhkan Covid-19, sebuah jurnal menuliskan bahwa kombinasi yang tepat untuk menghambat respons pada inflamasi hiper yang menyebabkan badai sitokin adalah dengan dengan terapi imunoregulator.

Terapi imun ini juga berfungsi mengurangi efek kerusakan yang ditimbulkan secara langsung. Hingga saat ini, studi klinis masih terus berlanjut untuk mengevaluasi kemampuan opsi pengobatan dalam menghambat badai sitokin yang disebabkan oleh Covid-19.

Di Indonesia, beberapa pilihan terapi Covid-19 untuk mengurangi dampak Badai Sitokin tertuang dalam Pedoman Tatalaksana Covid-19 yang disusun oleh beberapa perhimpunan dokter di Indonesia, berikut di antaranya:

Anti IL-1 (Anakinra)
Obat ini berfungsi sebagai antagonis IL-1* dan bermanfaat untuk mengatasi hiperinflamasi pada pasien yang mengalami ARDS akibat infeksi virus SARS-CoV-2. Anakinra juga dapat menurunkan kebutuhan ventilasi mekanis invasif serta mengurangi risiko kematian pada pasien dengan gejala berat dan kritis.

Anti IL-6 (Tocilizumab)
Penggunaan Tocilizumab bisa mengatasi kondisi ini dengan menurunkan penanda inflamasi yaitu CRP, ferritin, dan IL-6**. Obat ini bisa diberikan secara intravena atau subkutan pada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan kritis yang diduga mengalami hiperinflamasi. 

Vitamin C
Vitamin C bersifat antioksidan sehingga diduga dapat mengurangi keparahan badai sitokin. Jadi, badai sitokin ini tergantung pada daya tahan tubuh atau sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus yang masuk.

*) IL-1 atau Interleukin-1 juga dikenal sebagai leukocyte activating factor, B cell activating factor, mononuclear cell factor, leukocyte endogenous mediator, hemopoietin-1 dan sejumlah nama lain.

**) Interleukin-6 adalah sitokina yang disekresi dari jaringan tubuh ke dalam plasma darah, terutama pada fase infeksi akut atau kronis, dan menginduksi respon peradangan transkriptis melalui pencerap IL-6 RA, menginduksi maturasi sel B. dan pencerap gp130.

INGE KLARA | SUMBER DIOLAH TEMPO


Selengkapnya